Svaha Wellness
Location
About
Treatment
Blog
Promotion
Usada: Naskah Kuno Pengobatan Tradisional Bali

Soul

Usada: Naskah Kuno Pengobatan Tradisional Bali

Svaha Spa AuthorSeptember 23, 2026

Pernah mendengar apa itu Usada Bali? Usada Bali adalah naskah kuno mengenai pengobatan tradisional masyarakat Bali yang ditulis di atas lembaran daun lontar kering. Manuskrip ini berisi catatan tentang cara mendiagnosis penyakit, ramuan obat herbal, teknik pijat, hingga doa atau mantra penyembuhan.

Yang menarik, seluruh catatan tersebut bukan sekadar kumpulan teknik pengobatan yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan bagian dari satu sistem pengobatan holistik yang menyeimbangkan tubuh, alam, serta dunia skala (nyata) dan niskala (tak kasat mata). Jika kamu ingin mempelajari Usada lebih jauh, artikel ini akan membahasnya secara lengkap, mulai dari asal-usul hingga perkembangannya di dunia modern.

Apa Itu Usada Bali

Secara bahasa, Usada berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “ausadhi” yang artinya tumbuh-tumbuhan atau tetumbuhan yang memiliki kandungan khasiat obat. 

Mengutip dari Detik, ini merupakan sebuah ilmu pengetahuan mengenai pengobatan tradisional masyarakat Hindu Bali yang ditulis dalam naskah kuno daun lontar dan merupakan warisan dari Ayurweda, sistem pengobatan India yang secara tradisi dikaitkan dengan Atharva Veda, Veda keempat dalam kitab suci Hindu. Ilmu pengobatan tersebut mempunyai berbagai ajaran yang berkaitan dengan cara pengobatan serta upacara penyucian diri. 

Saat ini, Usada menjadi sumber pengetahuan tertulis yang diwariskan secara turun-temurun. Pengobatan ini mengombinasikan secara harmonis penanganan medis secara tradisional dengan kepercayaan spiritual mengenai keterhubungan antara penyakit dengan dunia niskala atau tak kasatmata.

Asal Usul dari Naskah Lontar

Usada Bali bersumber dari kearifan lokal, ajaran agama Hindu, serta kitab Ayurveda dari India yang kemudian ditulis dalam naskah daun lontar kering. Dengan kata lain, awalnya pengetahuan Usada hanya berawal dari tradisi lokal dan kearifan lokal masyarakat Bali asli (Bali Aga) jauh sebelum kebudayaan luar masuk dan memengaruhi pulau ini.

Seiring berjalannya waktu, pengetahuan mengenai pengobatan ini kemudian diwariskan secara turun-temurun dan didokumentasikan melalui naskah lontar (Lontar Usada) yang ditulis menggunakan aksara Bali kuno. Di Bali sendiri, ada puluhan ribu naskah kuno ini yang membahas mengenai berbagai jenis penyakit dan penyembuhannya.

Saat ini, naskah Usada banyak diarsipkan di perpustakaan Universitas Udayana (Unud), dan beberapa di antaranya juga ada yang menjadi kepemilikan atau koleksi pribadi. Dalam sebuah laporan berjudul “Lontar Usada Bali 2007” dari Fakultas Sastra Unud, terdapat beberapa judul yang merupakan ragam pengobatan Usada, seperti: 

  • Usada Buduh: Membahas mengenai bagaimana cara mengobati orang-orang yang memiliki penyakit kejiwaan.
  • Usada Rare: Membahas mengenai pengobatan untuk anak-anak yang memiliki tanda seperti lemah tanpa tenaga, demam, dan sakit tenggorokan.
  • Usada Kacacar: Membahas mengenai pengobatan untuk penderita penyakit cacar.
  • Usada Paneseh: Membahas mengenai pengobatan dan perawatan bagi ibu hamil.
  • Usada Dalem: Membahas mengenai pengobatan untuk orang-orang yang mengidap penyakit dalam.
  • Usada Ila: Membahas mengenai pengobatan untuk penyakit lepra.

Diperkirakan Berasal dari India, Menyatu dengan Tradisi Bali

Dalam sejarahnya, India memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan Usada di pulau ini. Di abad ke-5 Masehi, kebudayaan India mulai masuk ke Bali melalui jalur perdagangan, hubungan keagamaan, serta kontak dengan Pulau Jawa kuno.

Namun, sebelum itu, masyarakat Bali Aga sudah memiliki kepercayaan dan praktik pengobatan berbasis kearifan lokal serta animisme yang kemudian berbaur dengan ajaran Hindu yang datang belakangan.

Konsep dasar pengobatan ini juga diturunkan dari ajaran Ayurveda yang berasal dari India dan kemudian berakulturasi dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Salah satu contoh bentuk akulturasi pengobatan adalah penggunaan mantra dan akasara suci (wijaksara) untuk pemusatan pikiran dalam praktik Usada, pengobatan yang memadukan penggunaan tanaman herbal dengan unsur ritual yang magis khas Bali seperti banten dan reajahan, dan bahan pengobatan yang menggunakan tumbuhan obat yang dapat tumbuh di lingkungan pulau ini. 

Balian, Penjaga Ilmu Usada

Jika dalam dunia medis modern kita mengenal dokter sebagai tenaga pengobatnya, dalam sistem pengobatan Bali, peran tersebut dijalankan oleh Balian, seseorang yang mengamalkan ilmu Usada. 

Balian dapat disebut sebagai tabib atau dukun pengobat tradisional dalam masyarakat Bali. Mereka menguasai ilmu pengobatan berdasarkan naskah lontar Usada Bali. 

Umumnya, tidak semua Balian dapat menguasai semua teknik pengobatan, sehingga terbagi ke dalam beberapa jenis Balian sesuai dengan keahlian yang berbeda-beda.  

Coba Balian Usada sebagai Tabib Herbal

Jika berbicara mengenai Balian, maka jenis yang paling umum ditemui adalah Balian Usada atau tabib herbal. Mereka mengandalkan pengetahuan pengobatan yang tertulis dalam lontar Usada ketika mendiagnosis sebuah penyakit, menentukan metode pengobatan, dan meracik obat. 

Umumnya, mereka akan menanam sendiri tanaman obat yang dibutuhkan yang kemudian diolah menjadi dua bentuk ramuan, yaitu jamu khas Bali (loloh) untuk diminum dan pasta herbal yang dioleskan ke badan (boreh). 

Ragam Spesialisasi Balian (Balian Urat, Balian Tulang, hingga Balian Taksu)

Selain Balian Usada yang berfokus pada pengobatan herbal, masih ada banyak jenis Balian lainnya dengan spesialisasi atau fokus berbeda yang menarik untuk diketahui. Beberapa di antaranya adalah:

  • Balian Urat: Seorang tabib yang berspesialisasi dalam urut atau pijat tradisional khas Bali untuk menangani masalah otot dan peredaran darah.
  • Balian Tulang: Seorang tabib yang berfokus pada penanganan patah tulang dan cedera pada sendi.
  • Balian Taksu: Seorang tabib yang memiliki kekuatan spiritual khusus untuk menjadi perantara antara roh leluhur, dewa, dan kekuatan gaib.
  • Balian Kepaican: Seorang tabib yang berfokus pada penyembuhan benda bertuah (pica atau paica) seperti keris kecil, batu permata, dsb.
  • Balian Campuhan: Seorang tabib yang menggabungkan dua metode sekaligus antara spiritual dan peracikan obat-obatan herbal.
  • Balian Penangen: Seorang tabib yang menggunakan jalur kebaikan untuk menolong orang yang sedang sakit dengan wibawa, doa, dan sarana pengobatan positif.
  • Balian Pangiwa: Seorang tabib yang memiliki ilmu sisi kiri yang berkaitan dengan energi negatif atau penangkal ilmu hitam.
  • Balian Manak: Seorang dukun beranak yang memiliki keahlian untuk menolong jalannya proses persalinan dan perawatan bayi.
  • Balian Sonteng: Seorang pemangku upacara yang menggunakan doa, mantra, dan puja tertentu dalam ritual penyembuhan atau upacara.
  • Balian Tenung: Seorang tabib yang memiliki keahlian untuk meramal, membaca nasib, atau mencari petunjuk dari sebuah permasalahan atau penyakit berdasarkan wariga atau hari baik dan buruk.

Proses Panjang Menjadi Seorang Balian

Tidak semua orang dapat menjadi Balian. Untuk mendapatkan predikat ini, seorang Balian harus melalui proses yang cukup panjang dan tidak instan. 

Umumnya, hal ini dapat ditempuh melalui beberapa cara utama, yaitu melalui garis keturunan, di mana ilmu dapat diwariskan secara turun-temurun dalam satu keluarga, jalur belajar (usaha sadar), atau melalui wahyu, yaitu panggilan spiritual yang muncul ke dalam diri seseorang.

Setiap jenis Balian juga memiliki tempuhan jalur yang berbeda-beda, contohnya seperti Balian Usada yang bisa dilalui melalui belajar ilmu pengobatan tradisional secara sadar, Balian Kepaican yang melalui anugerah atau niskala, dan Balian Campuhan yang merupakan kombinasi antara keturunan dan anugerah spiritual yang kemudian diperdalam dengan mempelajari Lontar Usada.

Seorang Balian, apa pun jenisnya, sebelum mempelajari lontar dan memulai praktik pengobatan, harus menjalani ritual mawinten terlebih dahulu, sebuah upacara penyucian diri sebelum menempuh jalan spiritual apa pun di Bali. Setelah itu, mereka harus mempelajari aksara Bali agar bisa membaca lontar Usada serta berguru pada Balian senior untuk menyerap ilmu atau pengetahuan yang tidak tertulis.

Proses yang panjang ini menunjukkan bahwa menjadi seorang Balian bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga dibarengi dengan perjalanan spiritual yang penuh persyaratan dan tanggung jawab.

Cara Kerja Diagnosis dan Pengobatan Usada

Cara diagnosis dan pengobatan Usada sedikit berbeda dengan medis modern. Teknik pengobatan ini melibatkan aspek fisik (sekala) dan spiritual atau gaib (niskala), sementara obat-obatan yang diberikan untuk penyembuhan juga biasanya menggunakan bahan-bahan alami. 

Melihat Sekala dan Niskala sebagai Sumber Penyakit

Berbeda dengan medis modern yang sepenuhnya berfokus pada fisik, dalam pengobatan tradisional Bali, cara kerja diagnosis dan pengobatan bertumpu pada pendekatan holistik yang memadukan aspek fisik (sekala) dan spiritual atau gaib (niskala). Berikut adalah detail bagaimana keduanya bekerja: 

Cara Kerja Diagnosis

 

  • Pemeriksaan Fisik (Sekala): Seorang Balian akan mengamati bagaimana tanda-tanda klinis, gejala pada tubuh, denyut nadi, raut muka, ataupun keluhan fisik yang dialami oleh pasien. 
  • Penelusuran Unsur Tubuh: Seorang Balian juga dapat menilai bagaimana keseimbangan unsur Tridosha (tiga prinsip energi dasar dalam Ayurveda mengenai fungsi fisiologis dan psikologis manusia) dalam tubuh pasien yang terganggu.
  • Pemeriksaan Spiritual (Niskala): Seorang Balian dapat menelusuri kemungkinan mengenai adanya faktor-faktor nonmedis atau energi yang tak kasatmata yang dapat memengaruhi pikiran serta mental pasien. 
  • Perkiraan Penyakit (Prognosis): Seorang Balian juga dapat menelaah sejauh mana tingkat parahnya penyakit dan menentukan hari baik untuk memulai praktik pengobatan.

 

Cara Kerja Pengobatan

 

  • Pemberian Obat Herbal (Sekala): Seorang Balian akan meracik obat menggunakan bahan alami dari tumbuh-tumbuhan (Taru Pramana), hewan, atau mineral untuk dikonsumsi, diminum, dioles, diteteskan, atau diupakan.
  • Terapi Spiritual (Niskala): Seorang Balian akan membacakan mantra-mantra khusus, aksara gaib (wijaksara), serta upacara penunjang untuk menenangkan pikiran dan mental pasien. 
  • Pendekatan Holistik: Pengobatan biasanya akan disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien, sehingga penanganan dapat berbeda-beda meskipun penyakit yang dialami mungkin terlihat sama.

 

Bentuk-Bentuk Ramuan (Bubuk, Boreh, Loloh, dan Minyak)

Obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan tradisional Bali itu dibagi menjadi pemakaian luar dan dalam yang diracik dari berbagai jenis tanaman herbal, mineral, rempah, serta cairan pelarut. Yang paling umum digunakan adalah bubuk (sised/serbuk), boreh (Parem/Balur), loloh (jamu/minuman herbal), dan minyak.

  • Bubuk: Obat kering yang dihaluskan hingga menjadi serbuk yang digunakan untuk ditabur, disemburkan, atau diseduh. Biasanya terbuat dari rempah kering dan mineral seperti kencur, kunyit, jahe, lempuyang, kapur bubuk, garam, belerang, dsb. Obat ini memiliki kegunaan untuk mengatasi luka luar, gatal-gatal, atau penyakit kulit tertentu. 

 

  • Boreh: Sebuah ramuan herbal berupa pasta yang dibuat menggunakan bahan segar seperti rempah, daun, akar, ataupun bahan tambahan lainnya yang ditumbuk dan dicampurkan dengan air untuk dibalurkan ke tubuh. Kegunaannya beragam, dapat digunakan untuk menghangatkan tubuh, melancarkan peredaran darah, meredakan nyeri otot atau sendi, dan menurunkan panas atau meredakan bengkak. 
  • Loloh: Sebuah obat tradisional berbentuk cairan atau perasan herbal untuk mengobati bagian dalam dengan cara diminum. Obat ini dibuat dari bahan-bahan daun segar, rimpang, serta akar dengan kegunaan untuk mengatasi masalah pencernaan, mendetoksifikasi darah kotor, meredakan demam, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
  • Minyak: Sebuah ekstrak atau rendaman bahan herbal berbentuk minyak (contohnya minyak kelapa murni) yang dioleskan pada kulit yang terbuat dari rempah, akar, kulit batang, biji-bijian, serta basis minyak kelapa murni. Biasanya digunakan sebagai media urut untuk meredakan otot yang kaku, nyeri sendi, perut kembung, serta melindungi tubuh dari gigitan serangga. 

 

Usada dan Dunia Modern

Usada merupakan salah satu warisan budaya Bali yang terus dilestarikan hingga saat ini dan berkembang menjadi salah satu signature kekayaan pulau. Saat ini, Usada banyak diadopsi dalam perawatan spa dan wellness di pulau ini. Lantas, bagaimana pandangan sains mengenai teknik pengobatan tradisional ini?

Ketika Sains Membuktikan Kearifan Lokal

Meskipun belum diuji melalui uji klinis kedokteran modern secara menyeluruh, Usada Bali saat ini sudah cukup banyak diteliti secara ilmiah dalam bidang etnomedisin, sejarah, dan botani. Salah satu bukti penelitian yang telah dilakukan adalah identifikasi tanaman obat serta transliterasi lontar oleh sejumlah akademisi Bali, seperti pencatatan 168 jenis tanaman obat yang tercantum dalam Lontar Usada Taru Pramana.

Selain itu, dalam kajian etnomedisin, penelitian yang dipublikasikan lewat jurnal Universitas Gadjah Mada juga membahas Usada sebagai bagian dari etnosains yang menggunakan bahan alam yang terus eksis hingga saat ini. Kemudian dalam bidang botani, Kebun Raya Eka Karya Bali telah mencatat lebih dari 300 jenis tanaman obat tradisional guna menjaga kelestarian bahan baku pengobatannya.

Perpaduan Usada dengan Perawatan Spa dan Wellness Saat Ini

Seiring berkembangnya waktu, Usada saat ini banyak diadopsi dalam praktik perawatan spa dan wellness di Bali, yang kemudian berkembang menjadi pendekatan holistik yang memadukan kearifan lokal dan standar kesehatan global.

Salah satu bentuk perpaduan antara Usada dalam spa dan wellness adalah pemanfaatan ramuan herbal Usada seperti loloh, boreh, serta minyak esensial dalam perawatan yang ditawarkan. Kemudian, pijat tradisional khas Bali juga sering kali dijadikan sebagai perawatan utama yang ditawarkan bagi siapa pun yang ingin merasakan ketenangan dan pengobatan untuk otot kaku, nyeri sendi, dan peredaran darah.

Dengan berkembangnya pariwisata di Bali, banyak destinasi dan resor mewah di pulau ini yang mulai mengusung konsep penyembuhan tradisional khas Bali yang berbasis pada Usada sebagai salah satu daya tarik utama kesehatan, salah satu yang paling berhasil adalah Svaha Spa Wellness dan Hammana Spa. Tren ini bergeser dari sekadar relaksasi pasif menuju gaya hidup sehat yang preventif dan menyeluruh.

Melestarikan Warisan Usada

Melestarikan Usada sebagai salah satu kekayaan budaya Pulau Dewata merupakan tugas yang harus diemban bersama. Namun, perubahan zaman juga menghadirkan beberapa tantangan, termasuk minimnya regenerasi Balian, sehingga membutuhkan usaha yang lebih cerdas untuk edukasi dan pelestarian naskah lontar. 

Tantangan Regenerasi Balian

Dibandingkan dengan menjadi balian, saat ini banyak generasi muda yang lebih memilih untuk menggapai karier di profesi lain. Semakin hari, semakin sedikit pula generasi yang tertarik menjadi balian, sekaligus semakin sedikit yang mampu membaca aksara Bali.

Padahal, membaca aksara Bali merupakan kunci penting untuk mempelajari lontar. Selain itu, untuk menjadi seorang balian juga dibutuhkan waktu dan komitmen yang cukup panjang serta serius, tanpa penghasilan yang pasti, sehingga banyak yang akhirnya memilih pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.

Upaya Edukasi dan Pelestarian Naskah Lontar

Dengan tantangan yang ada, berbagai upaya terus dilakukan agar warisan budaya ini tidak musnah, salah satunya lewat digitalisasi naskah lontar agar isinya dapat dengan mudah diakses dan terhindar dari kerusakan.

Selain itu, festival konservasi lontar juga mulai rutin digelar oleh pemerintah setempat sebagai upaya menjaga dan merawat naskah-naskah kuno ini secara fisik, sekaligus meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya aksara Bali. Bahkan, pemerintah setempat juga mulai mendorong agar naskah lontar masuk ke dalam UNESCO Memory of the World Programme sebagai pengakuan dunia terhadap pentingnya warisan ini.

Usada, Warisan Penyembuhan yang Terus Hidup

Meskipun sudah lahir ratusan tahun lalu, Usada Bali tetap dilestarikan hingga kini dan menjadi salah satu pembentuk identitas pulau tropis ini. Di balik sawah hijau dan pura-pura kuno yang menjadi daya tarik wisatawan, Bali menyimpan filosofi penyembuhan yang sederhana namun mendalam: keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan alam. 

Filosofi inilah yang dihadirkan di Svaha Spa Padang Linjong dan Hammana Spa Ubud, tempat di mana tradisi penyembuhan khas Bali dikemas dalam pengalaman wellness yang nyaman dan modern. Jika kamu penasaran dan ingin merasakan langsung sentuhan tradisi ini, cek penawaran yang tersedia di sini

Continue Reading

You May Also Like

Svaha Wellness CTA

Step Into Stillness

Rediscover balance through authentic wellness experiences in Bali